Rabu, 19 Mei 2010

Saatnya Bangun

Saat ini Kau sadarkan aku dari lelapku
Kau buka mataku dari pekatnya duniaku

Mungkin ini bukan madu seperti mimpiku
Namun ini lebih berharga dari intan berlian yang menghampiriku

Mungkin baru saja air mata ini meleleh
Namun dengan segera kaki ini dapat berlari

Mungkin ini pelajaran yang ingin Kau sampaikan
Sudah waktunya aku tidak lagi tuk menghindar

Pujiku PadaMu atas yang Kau berikan
Aku bahagia bersama kebahagian mereka

Semoga saja hati ini tetap membaja
Sampai akhir dari semua cerita tlah terbaca

Semoga bintang kan hadir pada malam ini
Hangat mentari menyinari di esok hari

Semoga api ini terus membara
Tuk hangatkan kehampaan jiwa

Sabtu, 01 Mei 2010

Berbohong / Berdusta

Ngliat tv beberapa akhir bulan ini yang menyiarkan tentang terbukanya beberapa kasus korupsi kalangan atas, seru sih... tapi lama-lama membosankan semua serba samar dan sengaja disamarkan. Kebenaran banyak dibelokkan, saksi dan cerita palsu diadakan. Duh Gusti mau jadi apa negara ini (labai mode on).

Kadang terlintas di pemikiranku bahwa mereka (the high level government) dulunya adalah para aktivis kampus yang suka berkoar-koar tentang tertindasnya rakyat, tentang bobroknya pemerintahan orde baru, tentang korupsi para seniornya de el el yang lainnya. Pokoknya mereka begitu menentang adanya kebohongan yang menyebabkan bobroknya negara ini. Tapi..where are guys? Ketika kalian telah masuk dalam lubang hitam politik, dimana suara kalian yang ingin memperjuangkan kebenaran?

Orang di negeri ini itu pinter-pinter tapi karena pinternya malah minterin orang lain. Banyak rayuan, kebohongan, tipu muslihat yang keluar dari otak brilliant mereka untuk mendapatkan apa yang namanya kekuasaan ato uang. Ah, klo dipikir sebetulnya salah siapa ya? Apa salah guru kita yang kurang mengajarkan moral? ato salah lingkungan yang memang sudah begitu semrawut dan pekat, sehingga sulit untuk diluruskan dan dibeningkan? huh.. klo menurutku sih sebaiknya semua yang ada di pemerintahan sekarang diganti semua dengan yang baru. Jadi kebiasaan turun menurun dari atasan dapat dihindari (wkwkwk ngaco!!)

Aku heran juga dengan mereka, dengan entengnya mereka melakukan kebohongan. Apa mereka gak takut neraka ya? Yang lucu lagi nih setelah diketahui kebohongan mereka, mereka bilang "kasihan keluarga saya, jangan diikutkan dalam masalah ini". Apa sebelum mereka melakukan sesuatu dulu gak mikir apa akibatnya bagi orang yang dicintainya?? Curious thing.

Mengenai bohong ato dusta sendiri dalam islam (agamaku), kita boleh berbohong hanya untuk 3 hal yaitu:
1. Boleh berbohong untuk mendamaikan 2 pihak yang bersengketa agar tidak terjadi perang.
2.Berbohong kepada istri
3.Berbohong dalam perang.

Nah klo para makelar kasus tu bohong yang mana ya?? Pasti bukan yang ketiga-tiganya di atas.

Sebetulnya berbohong tu kan termasuk larangan, klo di logika seharusnya lebih mudah menghindari larangan daripada melakukan perintah, karena untuk melakukan perintah kita butuh energi untuk melakukan sementara untuk menghindari larangan kita cukup dengan diam. makanya ada pepatah Diam adalah Emas. Tapi kenyataannya semua larangan tu melenakan sehingga menarik sesorang untuk melakukannya.

Ah sutralah. Klo mo bohong ya monggo, toh dosanya juga ditanggung ma situ. Hanya mengingatkan saja "Sekali kita bohong maka akan muncul kebohongan-kebohongan lain untuk melengkapi kebohongan yang sebelumnya". Yach sekedar koreksi saja, apakah amal kita sudah cukup melebihi dosa kita, sehingga klo kita bohong seudikiiiiit aja gak akan membuat kita masuk neraka?? Ya mungkin saat ini orang yang anda bohongi masih belum tahu kenyataannya, tapi apa anda telah siap jika ia tahu kebenaran dari orang lain? Apa anda nanti bisa dimaafkan? (udah mule nglantur)

Dah gitu aja... trying to be the best what ever you are. Because none useless in the world. Big is powerful, medium is wonderful and small is beautiful